Selasa, 03 November 2009

Hemofilia

Hemofilia adalah kelainan akibat gangguan pembekuan darah. Luka kecil saja bisa menyebabkan perdarahan yang sulit dihentikan. Penyakit ini bisa bersifat genetik (diturunkan) maupun didapat (hemofilia equate).

Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui kromosom X. Karena itu, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria karena mereka hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita umumnya menjadi pembawa sifat saja (carrier). Namun, wanita juga bisa menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dari ayah hemofilia dan ibu pembawa carrier.

Penyakit hemofilia ditandai oleh perdarahan spontan maupun perdarahan yang sukar berhenti. Selain perdarahan yang tidak berhenti karena luka, penderita hemofilia juga bisa mengalami perdarahan spontan di bagian otot maupun sendi siku.

Pada orang normal, ketika perdarahan terjadi maka pembuluh darah akan mengecil dan keping-keping darah (trombosit) akan menutupi luka pada pembuluh. Pada saat yang sama, trombosit tersebut bekerja membuat anyaman (benang-benang fibrin) untuk menutup luka agar darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh. Pada penderita hemofilia, proses tersebut tidak berlangsung dengan sempurna. Kurangnya jumlah faktor pembeku darah menyebabkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah terus mengalir keluar dari pembuluh yang dapat berakibat berbahaya. Perdarahan di bagian dalam dapat mengganggu fungsi sendi yakni mengakibatkan otot sendi menjadi kaku dan lumpuh, bahkan kalau perdarahan berlanjut dapat mengakibatkan kematian pada usia dini.

Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu hemofilia A dan hemofilia B. Hemofilia A disebabkan oleh kekurangan Faktor VIII dalam darah, sedangkan hemofilia B disebabkan oleh kekurangan Faktor IX. Tingkat normal Faktor VIII dan Faktor IX adalah 50-200%. Sedangkan pada orang sehat, nilai rata-rata kedua faktor pembeku darah itu adalah 100%. Pada penderita hemofilia berat, kadar Faktor VIII atau Faktor IX di dalam darah kurang dari 1%. Untuk hemofilia sedang, hanya terdapat 1-5%. Pada hemofilia ringan terdapat sekitar 6-30%.

PENYEBAB
Hemofilia terjadi akibat beberapa kelainan gen yang sifatnya diturunkan; diturunkan melalui ibu tetapi hampir selalu menyerang anak laki-laki.

GEJALA
Beratnya gejala tergantung kepada pengaruh kelainan gen yang terjadi terhadap aktivitas faktor VII dan faktor IX. Jika aktivitasnya kurang dari 1%, maka akan terjadi episode perdarahan hebat dan berulang tanpa alasan yang jelas.

Jika aktivitasnya mencapai 5% maka gejalanya ringan. Jarang terjadi episode perdarahan tanpa sebab yang pasti, tetapi pembedahan atau cedera bisa menyebabkan perdarahan yang tak terkendali, yang bisa berakibat fatal.

Biasanya episode perdarahan pertama terjadi sebelum usia 18 bulan, yang sering terjadi setelah suatu cedera ringan. Anak mudah mengalami memar. Bahkan penyuntikan ke dalam otot bisa menyebabkan perdarahan yang selanjutnya menyebabkan memar yang luas (hematom).

Perdarahan berulang ke dalam sendi dan otot pada akhirnya bisa menyebabkan kelainan bentuk yang melumpuhkan. Perdarahan bisa menyebabkan pembengkakan dasar lidah sehingga menyumbat saluran pernafasan dan terjadi gangguan pernafasan. Benturan ringan di kepala bisa memicu perdarahan di tulang tengkorak, yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian.

DIAGNOSA
Jika seorang anak laki-laki mengalami perdarahan yang tidak biasa, maka diduga dia menderita hemofilia. Pemeriksaan darah bisa menemukan adanya perlambatan dalam proses pembekuan.
Jika terjadi perlambatan, maka untuk memperkuat diagnosis serta menentukan jenis dan beratnya, dilakukan pemeriksan atas aktivitas faktor VII dan faktor IX.

PENANGANAN DENGAN HERBAL
Pada kasus HEMOFILIA, berdasarkan pengalaman yang pernah ditangani teraphyst adalah dengan menggunakan GUVA dan STAMED, maka dalam beberapa waktu seteleh minum herbal tersebut darah yg keluar akan berangsur terhenti.
Baca Selanjutnya....

Tips Mencegah Mau Badan

Mengatasi bau badan memang gampang-gampang susah. Cara paling alami tentu saja mandi dan berganti pakaian. Namun jika tiap kali bau badan harus mandi dan berganti pakaian akan merepotkan karena butuh pakaian yang banyak. Cara lainnya adalah dengan mencegah pertumbuhan bakteri penyebab bau badan dan mengontrol keringat agar tidak berlebihan. Berikut tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi bau badan.

1. Rajin mandi
Mandi adalah langkah awal yang baik untuk mencegah bau badan. Mandi dengan pancuran lebih baik dibandingan mandi dengan berendam karena selama air memancar maka akan lebih banyak kotoran dan bakteri yang terbuang dari badan dibandingkan dengan aliran air yang konstan dan tidak mengalir.

2. Jaga kebersihan badan
Bau badan dipengaruhi oleh kebiasan sehari-hari. Karena itu jagalah kebersihan badan untuk mencegah bau badan.

3. Gunakan antiperspiran
Deodoran umumnya mengandung seng dan alumunium yang berperan untuk memerangi bakteri penyebab bau badan. Sedangkan antiperspiran bekerja dengan cara menyumbat kelenjar keringatm sehingga bakteri tidak dapat berinteraksi dengannya, Sabun antibakteri juga dapat membantu membunuh kuman di tubuh.

4. Nutrisi yang tepat
perbanyak mengkonsumsi air, nutrisi dan buah-buahan yang mengandung antioksidan. Hindari makan dan minuman yang mengandung kafein, cokelat dan lemak. Bakteri sangat suka pada keringat yang banyak mengandung lemak. Banyak mengkonsumsi caian akan mengurangi kerja kelenjar keringat apokrin sehingga dapat meminimalkan terjadinya bau badan.

5. Konsumsi sayuran hijau
Sayuran berbau wangi seperti daun kemangi sangat bagus untuk menghilangkan bau badan. Dan bau badan vegetarian lebih baik dibanding mereka yang mengkonsumsi daging. Hindari mengkonsumsi sayuran yang berbau menyengat seperti jengkol, petai dan sejenisnya.



Baca Selanjutnya....